Cara Mengatasi Amarah dengan Mengetahui 7 Penyebabnya

Cara mengatasi amarah

Cara Mengatasi Amarah – Marah adalah emosi yang sangat aktif dan bisa berakibat buruk pada kondisi fisik pelakunya. Meskipun marah adalah sesuatu yang normal, namun tetap berpengaruh buruk terhadap tubuh dalam jangka panjang.

Ekspresi kemarahan juga bervariasi, ada yang sangat ekspresif dengan cara melempar benda-benda di sekelilingnya, ada yang cukup dengan nada suara tinggi, dan ada pulaakan mengalami angina (rasa nyeri di dada), serangan jantung dan resiko pada irama jantung.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Harvard Health Publishing.

Menurut penelitian tersebut, kemarahan akan membuat adrenalin keluar dan berdampak pada detak jantung yang lebih cepat dan tekanan darah yang meningkat.

Bahayanya lagi, darah pun bisa menggumpal dan berefek pada serangan stroke (terutama jika darah mengandung kolestrol).

Karena itu penting sekali untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi amarah sehingga kita bisa menjadi orang yang lebih sabar dalam menghadapi berbagai situasi yang sulit

7 Faktor Penyebab Munculnya Amarah

Untuk bisa mengatasi kemarahan, kita harus tahu dulu apa yang menjadi faktor munculnya rasa marah di dalam hati yang kemudian diekspresikan melalui tindakan. Dengan begitu, kita akan bisa mengatasi rasa marah dengan strategi mengelola pikiran.

  • Pertama, Marah Timbul Karena Rasa Tidak Nyaman

Contohnya, kita marah pada anak yang membuat rumah berantakan, dan tanpa sengaja mainannya terinjak oleh kita. Atau ada orang yang menyalip mobil yang kita kendarai dengan kecepatan tinggi dan menyebabkan kita menekam rem mendadak.

Dua hal di atas bisa memunculkan rasa marah karena ada rasa sakit dan ketidaknyamanan yang muncul akibat perbuatan orang lain.

Cara mengatasi amarah ini yaitu dengan melihat keadaan orang lain yang menyebabkan kita marah. Ini bisa membuat hati kita menjadi tenang setelah mengetahui keadaan orang tersebut. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan ternyata perlu mengekspresikan diri dengan berbagai kegiatan aktif.

Anak yang sedang bermain dan membuat rumah kita berantakan justru menghidupkan suasana  di rumah kita. Rumah kita bisa saja bersih kalau tidak ada anak, namun suasana rumah jadi sepi seperti tak ada kehidupan. Mau suasana rumah berantakan atau mau tidak punya anak?

Sedangkan orang yang menyalip mobil kita dengan kencang mungkin saja di dalam mobil itu ada anggota keluarganya yang sedang sakit keras atau membutuhkan operasi yang segera.

Pengemudinya berpacu dengan waktu agar bisa sampai secepat mungkin di rumah sakit sehingga bisa menyelamatkan nyawa pasien.

Dengan berprasangka baik seperti itu, kita akan menjadi lebih tenang dan mendoakan mereka agar selamat sampai di tujuan.

  • Kedua, Memori Masa Lalu

Seseorang mungkin saja sudah memaafkan kesalahan orang lain, namun ketika orang tersebut kembali berbuat salah, memori masa lalu pun keluar dan kita menjadi marah lagi. Padahal ia sebelumnya sudah minta maaf untuk kesalahan tersebut.

Cara mengatasi amarah ini yaitu dengan meningkatkan kesabaran, belajar memaafkan dan memahami keterbatasan orang lain. Berilah ruang kepada orang lain untuk terus memperbaiki diri.

Ingatlah bahwa  kesabaran kita akan berbuah pahala. Jika suatu saat orang tersebut benar-benar berubah, maka dapat dibayangkan betapa besarnya manfaat dan kebaikan yang telah kita lakukan untuk orang lain.

  • Ketiga, Komunikasi yang Salah

Ada orang-orang dari suku tertentu yang ketika berbicara seakan-akan mereka sedang marah karena menggunakan intonasi yang cukup tinggi.

Padahal mereka sedang ngobrol biasa saja. Kesalahan mempersepsikan bahasa non verbal ini bisa membuat kita terpancing untuk marah.

Anda juga mungkin pernah punya pengalaman dengan seseorang yang gaya bahasanya seperti memerintah, padahal sebenarnya dia punya tujuan baik untuk kita.

Cara mengatasi amarah ini  yaitu dengan menghidupkan rasa kasih (love) dan melihat dari sudut pandang orang lain. Sadari bahwa setiap orang punya latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, punya masalah yang berbeda-beda dalam hidup.

Dengan latar belakang dan masalah yang berbeda-beda tersebut, wajar setiap orang akan berbeda dalam menyampaikan sesuatu (berkomunikasi) dengan lawan bicaranya.

  • Keempat, Buruk Sangka

Sering berpikir negatif terhadap orang lain adalah salah satu faktor yang memicu kemarahan. Contoh sederhana, jika ada orang lain yang menawarkan sesuatu kepada kita, kita curiga kalau dia mau menipu.

Padahal, bisa jadi orang itu jujur dan menawarkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Jika orang tersebut terus mendekat dan menawarkan, biasanya sifat buruk sangka akan memancing kita untuk marah.

Berlebihan dalam memandang negatif orang lain (buruk sangka) akan mendorong seseorang untuk selalu marah. Dan ini jelas berbahaya untuk kesehatan jiwanya.

Cara mengatasi amarah ini adalah dengan menumbuhkan rasa kasih (love) dan memahami bahwa setiap orang mengalami berbagai tantangan dalam hidupnya.

Bisa jadi orang tersebut sedang mengalami masalah yang berat dalam hidupnya sehingga ketika ia menawarkan sesuatu kepada kita kesannya jadi  seperti memaksa.

Jika kita sadar bahwa boleh jadi orang tersebut sedang mengalami masalah berat, maka akan muncul sifat mulia yang lain pada diri kita, yaitu memberi (giving). Bisa jadi kita tidak membeli barang yang dia tawarkan, tapi kita memberikan sesuatu kepadanya sebagai tanda simpati.

Memberi adalah sebuah tindakan untuk membahagiakan orang lain. Dan dengan membuat orang lain bahagia, kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Orang yang bahagia akan jauh dari rasa marah.

  • Kelima, Rongrongan Terhadap Sesuatu yang Tidak atau Belum Bisa Dipenuhi

Seorang ibu atau ayah akan marah pada anaknya yang terus menerus merengek minta dibelikan mainan, padahal ia sedang tidak punya uang.

Seorang suami akan marah pada istrinya yang terus menerus minta dibelikan kendaraan untuk mengantar anak sekolah, padahal belum ada anggaran untuk itu.

Seorang atasan pun bisa marah-marah kepada bawahannya ketika si bawahan terus menerus meminta promosi jabatan padahal kinerja dan kompetensinya masih jauh dari harapan.

Cara mengatasi amarah ini adalah dengan merenung dan bertanya ke dalam diri kita : “Pelajaran berharga apa yang bisa saya ambil dari hal ini?”

Mungkin sebagai seorang ayah atau suami, kita belum bisa bekerja maksimal dalam mencari rezeki. Ilmu kita kurang, sementara tantangan dalam bekerja semakin kompleks.

Akibatnya, gaji atau penghasilan kita tidak pernah meningkat dan berbanding terbalik dengan kebutuhan keluarga. Dari sini kemudian muncul kesadaran si ayah untuk banyak belajar dan meningkatkan keahliannya. Dengan begitu ia bisa dibayar dengan lebih mahal.

Begitu juga sang atasan atau pemimpin perusahaan yang marah kepada bawahannya karena target penjualan tidak tercapai.

Itu merupakan sinyal agar kita memperbaiki diri dari dalam, baik mengubah strategi pemasaran maupun meningkatkan keahlian bawahan dengan mengikutsertakan mereka pada pelatihan-pelatihan kepemimpinan yang bisa berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan.

  • Keenam, Over Thinking

Ini hampir mirip dengan buruk sangka. Bedanya over thinking itu lebih mengarah pada prediksi yang salah. Contohnya, ketika kita sudah menandatangani kerjasama dengan seorang mitra, lalu mitra kita terlambat melakukan pembayaran terhadap profitnya.

Kita mulai berburuk sangka bahwa mitra kita berlaku curang. Lebih jauh dari itu, kita pun mengembangkan dugaan tersebut dengan berpikir bahwa mitra kita sengaja memperlambat pembagian profit karena dana tersebut akan dipakai untuk kepentingan pribadi lainnya.

Ini tentu saja membuat kita marah. Padahal, bisa jadi terlambatnya pembayaran karena memang proses pembayaran dari klien yang masih “nyangkut” di bagian keuangan karena masalah administrasi.

Pikiran negatif yang berlebihan tanpa konfirmasi lebih lanjut akan menyebabkan kita mudah marah kepada orang lain.

Cara mengatasi amarah ini adalah dengan memperbaiki pola pikir kita menjadi selalu positif thinking. Hilangkan jauh-jauh berpikiran negatif. Dan senantiasa lakukan cek dan ricek untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.

  • Ketujuh, Standar yang Tinggi

Orang yang memiliki standar yang tinggi dalam hal apapun, akan merasa marah jika menerima kualitas kerja di bawah standarnya. Padahal, bisa jadi standar tiap orang berbeda-beda karena hal tersebut sangat subyektif.

Maka, walaupun sangat bagus untuk memastikan target kinerja, menjadi seorang perfeksionis boleh jadi akan membuat kita terhambat dalam hubungan antar manusia.

Jika kita marah kepada orang lain karena mereka tidak bekerja sesuai standar kita, bisa jadi orang tersebut bukanlah orang yang tepat untuk mengisi posisi yang diembannya saat ini.

Cara terbaik mengatasi amarah ini adalah dengan melakukan intropeksi diri sambil berkata : “Apakah dia orang yang tepat dalam mengisi posisi tersebut?”

Jika jawabannya tidak, maka segeralah ganti posisinya ke divisi lain yang lebih tepat. Mungkin dia lebih cocok bekerja di bagian lain yang sesuai kemampuannya.

Lalu jika Anda menuntut standar kerja yang tinggi, cari anggota tim yang punya kemampuan tinggi pula dan punya pengalaman banyak untuk posisi tersebut. Dengan melakukan hal tersebut Anda dapat mengubah amarah Anda menjadi produktivitas.

Workshop Cara Mengatasi Amarah

Workshop cara meredam amarah

Arvan Pradiansyah adalah seorang Motivator Nasional di bidang Leadership & Kebahagiaan (Happiness) yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun.

Sejak tahun 2019 beliau membuka Workshop Anger Management yang telah diikuti oleh banyak professional dari berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia.

Dalam workshop Anger Management, peserta akan mendapatkan pemahaman baru bahwa marah ternyata bukan emosi negatif tetapi merupakan emosi positif yang sangat penting bagi setiap manusia. Marah membawa sebuah pesan dan informasi yang sangat penting mengenai sesuatu yang perlu segera kita lakukan.

Untuk informasi mengenai Workshop Anger Management yang akan datang – silahkan hubungi ILM di WA: 0812-12345-949

————————————–

Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional – Leadership & Happiness akan menuntun Anda menjadi orang yang selalu bahagia dengan memberdayakan 7 asupan makanan bergizi dengan kekuatan pikiran secara sistematis (seperti terangkum dalam buku “The 7 Laws of Happiness”).

Anda akan belajar memfokuskan pikiran positif secara berulang & menolak pikiran negatif masuk.

Pelatihan Happiness ini cocok untuk Anda secara pribadi, keluarga, ataupun anggota Tim Perusahaan yang ingin bangkit-kompak menghadapi musibah Pandemi ini dengan rasa bahagia.

Jika Anda sebagai Menejer atau Pimpinan Perusahaan, maka pelatihan ini bisa menjadi energi pendobrak supaya pikiran Tim selalu positif untuk bekerja mencapai target.

Metode Pelatihan Leadership & Happiness Arvan Pradiansyah memiliki 4 ciri khas :

  • Inspiratif – menyentuh hati & mendorong tindakan.
  • Simpel – mudah dipahami & down to earth.
  • Spiritual – berpusat pada Tuhan, menemukan makna & hakikat kehidupan.
  • Thought Provoking – memprovokasi pikiran & mengubah paradigma.

Topik Sesi Motivasi Happiness by Arvan Pradiansyah :

  1. Happiness at Work.
  2. Happiness 4.0.
  3. The Meaning of Work.
  4. I Love Monday.
  5. The 7 Laws of Happiness.
  6. Happiness for Salespeople.
  7. Selling with Love.
  8. Coaching with Happiness.
  9. Work Life Balance.
  10. You Are What You Contribute.

Untuk informasi pelatihan cara mengatasi amarah lebih lanjut yaitu “ Cara Menikmati Hidup Bahagia ” dari Motivator terbaik Indonesia (Arvan Pradiansyah), Anda bisa menghubungi Tim ILM pada Kontak WA berikut : 0812-12345-949.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi Kami Sekarang