Filosofi Jalan Kaki (2)

Arvan Pradiansyah

Motivator Nasional & Pegiat Jalan Kaki

Tulisan saya mengenai filosofi jalan kaki mendapatkan banyak tanggapan pembaca. Ini karena saya mengirimkan tulisan tersebut  ke 30 WA group yang saya ikuti. Dalam beberapa bulan terakhir, saya memang banyak bicara mengenai jalan kaki yang selalu saya selipkan dalam berbagai talkshow dan seminar saya. Saya memang berniat untuk menggugah banyak orang mengenai jalan kaki yang mudah, murah dan menyehatkan ini. Secara umum, ada 4 jenis tanggapan yang saya terima.

Pertama : Kesulitan Menemukan Tempat yang Tepat

“Kalau berjalan di jalan raya agak sulit, banyak kendaraan lalu lalang. Selain itu juga banyak jalanan yang berlubang. Kita harus ekstra hati-hati,” demikian kata seorang teman. Teman lain menimpali, “Belum lagi polusi dan kualitas udara yang kurang baik..” Yang ingin mereka katakan adalah: sulit untuk melakukan hal ini karena fasilitas kurang mendukung.

Secara umum alasan tersebut masuk akal. Saya sendiri termasuk orang yang diuntungkan karena tinggal di kompleks yang cukup permai dan tidak ramai. Di kompleks ini hanya ada sekitar 300-an rumah – jalanan di kompleks pun hanya dilalui para penghuni sehingga tidak ramai. Nah, untuk berjalan sekali putaran di kompleks ini kita akan menempuh jarak 2 kilometer. Jadi setiap hari saya mengelilingi 5 putaran saja (10 km). Kalau weekend saya tambah 1 putaran lagi menjadi 12 km. Dengan adanya ukuran-ukuran ini kondisinya boleh dibilang cukup ideal bagi saya.

olahraga jalan kaki
Olahraga di pagi hari.

Tapi kalau dipikir lebih jauh, soal tempat ideal sesungguhnya hanyalah alasan saja. Buktinya, banyak juga orang yang tinggal di kompleks tetapi tidak juga mulai berjalan kaki. Saya saja yang sudah tinggal di kompleks ini lebih dari 15 tahun baru belakangan ini saja konsisten berjalan kaki. Dari dulu kemana aja? Demikian mungkin kata Anda. Tapi memang demikianlah kenyataannya.

Pepatah lama bilang: Dimana ada kemauan – di situ ada jalan. Teman saya yang tidak tinggal di kompleks sering menyiasati dengan berjalan kaki di kompleks yang lain. Teman-teman yang lain pergi ke GBK atau ke Pantai Indah Kapuk. Intinya, semua itu bisa disiasati asalkan ada niat dan kemauan.

Kedua : Soal Waktu

Mereka yang menggunakan alasan ini selalu bilang: Saya sangat sibuk bekerja, tak ada waktu untuk jalan kaki. Hehehe.. Saya dulunya juga paling senang menggunakan alasan ini. Namun apa yang terjadi selama 7 bulan terakhir membuat saya terheran-heran sendiri.

Ternyata saya bisa meluangkan waktu sampai 12 jam per minggu untuk urusan jalan kaki ini (2 jam per hari selama 6 hari). Darimana datangnya waktu yang sebanyak itu? Saya juga tidak tahu.  Kalau  memulai dari ketersediaan waktu – jawabannya selalu saya tidak punya waktu. Tapi kalau saya memulainya dari “Saya ingin jalan kaki,” maka waktu itu datang dengan sendirinya. Ternyata masalahnya lebih pada mindset.

Waktu sesungguhnya sangat bisa kita siasati. Ada teman yang ke kantor naik mobil kemudian turun di jalan yang cukup aman dan berjalan kaki sementara sopir membawa mobilnya ke kantor. Teman lain yang menggunakan kendaraan umum turun 2 halte lebih awal agar punya kesempatan jalan kaki ke kantor. Jadi waktu itu sangat relatif – yang lebih penting adalah niat dan kemauan.

Ketiga : Sulit untuk Melakukannya Dengan Konsisten

Tanggapan ini berasal dari mereka yang sudah berjalan kaki tapi hanya melakukannya sekali-sekali saja. Ini terjadi karena  hal ini belum menjadi sebuah kebiasaan. Ketika sesuatu belum menjadi kebiasaan maka tantangannya sungguh besar, tetapi ketika sesuatu itu sudah menjadi bagian dari diri kita akan timbul rasa sayang ketika tidak melakukannya. Inilah yang saya rasakan dengan berjalan kaki ini. Bahkan saya mungkin sudah sampai pada level addiction (ketagihan). Saya bahkan sering merasa kecewa kalau suatu pagi saya tak bisa berjalan kaki karena hari hujan.

Keempat : Tidak Ada yang Menemani

Jalan kaki bersama teman
Olah raga jalan kaki bersama teman.

Seorang teman bercerita bahwa ia hanya mau jalan kaki kalau istrinya menemani. Ini tentu wajar. Melakukan aktivitas bersama-sama pasti  akan lebih menarik. Tetapi ini sesungguhnya hanya dibutuhkan di awalnya saja. Ketika memulai kebiasaan jalan kaki saya menciptakan mekanisme saling menyemangati dengan istri. Kamipun saling bertukar peran: kalau aku tidak semangat kamu menjadi penyemangatku. Begitu juga sebaliknya. Saya kira Anda pun perlu mencoba strategi saya ini. Tapi percayalah, ini hanya terjadi di awalnya saja. Setelah menjadi kebiasaan, maka tak ada lagi yang bisa menghalangi Anda.

Jadi, kapan Anda akan memulai jalan kaki? Mungkin Anda malah bertanya mengapa saya begitu “ngotot” mempengaruhi Anda agar melakukan hal ini? Tentu saja, karena kesehatan itu sangat penting. Supaya sehat kita harus berolah raga, tetapi untuk bisa berolah raga itu kendalanya sangat banyak. Karena itu saya menyarankan sesuatu yang murah, mudah dan bisa dilakukan oleh siapapun. Persoalannya hanya pada niat. If it is important to you, you will find a way. If not, you will find an excuse.

* * *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi Kami Sekarang