[Smart Happiness] Education & Happiness

Mortimer Adler, seorang pakar pendidikan di Amerika, pernah mengatakan bahwa tujuan akhir dari pendidikan adalah kebahagiaan. Pertanyaan besarnya adalah, apakah kita bahagia saat menempuh pendidikan? Jika kita tidak bahagia saat menempuh pendidikan, bagaimana mungkin bisa menghasilkan kebahagiaan?

Bagaimana pendidikan ditinjau dari perspektif Happiness? Simak kajiannya dalam rekaman video Smart Happiness “Happiness for Education” dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional 2016 bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness di bawah ini:

It’s All Small Stuff

Pada suatu pagi yang cerah Anda sedang mengemudikan kendaraan sambil menikmati lagu kesayangan Anda. Tiba-tiba, sebuah mobil yang  melaju dengan kecepatan tinggi menyalip Anda. Anda terkejut bukan kepalang.

Masih untung Anda terhindar dari kecelakaan. Langsung saja Anda membunyikan klakson sekeras-kerasnya sambil mengejar mobil tersebut. Tanpa diduga mobil tadi berhenti. Orangnya pun menghampiri Anda dan memaki Anda dengan kata-kata yang tak senonoh.

Bayangkan kalau Anda menghadapi situasi semacam itu. Apa yang akan terjadi ? Apa yang akan Anda lakukan sesampai di kantor ? Mungkin Anda akan menceritakan kejadian tadi pada teman-teman Anda. Lalu seharian Anda diliputi perasaan marah. Masih belum puas, sore harinya Anda mendiskusikan masalah itu dengan keluarga di rumah.

Continue reading

[Smart Happiness] Komitmen dalam Pernikahan

Di Indonesia, masalah pernikahan ini sangat memprihatinkan. Menurut data dari BKKBN, angka perceraian di Indonesia adalah yang tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Dalam satu hari terjadi hampir seribu kasus perceraian, atau rata-rata terjadi 40 kasus perceraian setiap jam.

Perceraian adalah hal yang paling menyakitkan bagi anak. Merekalah yang menjadi korban atas kegagalan kedua orang tua dalam menjaga komitmen pernikahan.

Lantas, bagaimana caranya menumbuhkan dan menjaga komitmen? Simak pembahasannya dalam rekaman video talkshow Smart Happiness “Komitmen dalam Pernikahan” berikut:

Mungkinkah Mengukur Kebahagiaan

Mungkinkah kita mengukur kebahagiaan (happiness)? Pertanyaan ini termasuk yang paling sering ditanyakan kepada saya dalam berbagai forum dan diskusi para eksekutif mengenai kebahagiaan.

Jawabannya tentu saja bisa, bahkan harus. Kalau kita tidak bisa mengukur sesuatu bagaimana kita dapat meningkatkannya? Pengukuran diperlukan dalam rangka peningkatan. Apalagi ini berkaitan dengan kebahagiaan yang menjadi jantung kehidupan itu sendiri.

Namun seperti yang terjadi dalam ilmu sosial yang lain, pengukuran kebahagiaan tentu saja berarti menguantifikasikan sesuatu yang kualitatif. Ini sangat berbeda dari pengukuran dalam ilmu alam yang objektif dan kuantitatif.

Continue reading

[Smart Happiness] Commitment

Komitmen adalah barang langka namun sangat penting. Dalam pernikahan, ketiadaan komitmen akan mengantarkan pada kerapuhan yang akan berakhir pada kehancuran dan malapetaka. Dalam dunia profesional, banyak orang yang bekerja semata-mata demi uang tanpa komitmen.

Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komitmenlah yang menyatukan setiap elemen bangsa untuk bersama-sama meraih cita-cita kemerdekaan. Komitmen berbeda dengan janji. Jika janji berada di muka, maka komitmen ada di tengah perjalanan.

Apa yang seharusnya kita lakukan untuk menumbuhkan dan menjaga komitmen? Simak pembahasannya dalam rekaman talkshow Smart Happiness yang berjudul “Komitmen” berikut ini: