[Smart Happiness] Wings of Forgiveness

Memaafkan sesungguhnya bukanlah karakter manusia karena manusia selalu menginginkan keadilan dan keseimbangan. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang berbuat salah terhadap orang lain, maka orang lain tersebut cenderung untuk membalasnya dengan perbuatan serupa agar tercipta keadilan dan keseimbangan.

Banyak orang yang mengatakan bahwa memaafkan itu adalah hal yang mudah, sampai suatu saat mereka memiliki sesuatu untuk dimaafkan. Untuk bisa memaafkan, manusia membutuhkan kekuatan dari Tuhan Sang Maha Pemaaf. Tanpa bantuan dari Tuhan, mustahil bagi manusia untuk bisa memaafkan.

Bagaimana cara memaafkan dan apa manfaatnya bagi orang yang tersakiti? Simak ulasannya dalam rekaman video Smart Happiness “Wings of Forgiveness” Part 1 sampai Part 4 bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness.

[Smart Happiness] Is It Too Late to Say Sorry?

Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan manusia lain, sangat lumrah jika terjadi gesekan atau konflik di antara kita. Untuk itulah perlu membekali diri dengan keahlian untuk meminta maaf guna memperbaiki hubungan antar-manusia yang retak, merenggang, atau terganggu. Meminta maaf adalah sebuah keahlian penting bagi semua orang, yang harus diajarkan sejak dini.

Sebesar apa pun kesalahan yang kita lakukan, semuanya bisa dimaafkan jika kita tahu cara meminta maaf yang efektif. Ada 6 dimensi dalam meminta maaf yang efektif. Apa saja ke-6 dimensi tersebut? Simak ulasannya dalam rekaman video Smart Happiness “Is It Too Late to Say Sorry” Part 1 sampai Part 4 bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness berikut ini:

[Smart Happiness] Kembali dan Menang

Setiap tahun kita merayakan momen Idul Fitri atau Lebaran yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Di Indonesia, lebaran bukan hanya dinikmati oleh orang-orang Islam, melainkan seluruh penduduk negeri ini.

Ada satu kalimat yang acap kita dengar dalam setiap Lebaran, yakni “minal aidin wal faizin” yang secara harfiah berarti “semoga kita menjadi bagian orang-orang yang kembali dan menang”. Kembali dan menang adalah dua kata kunci terpenting yang memiliki makna yang sangat dalam. Kembali dan menang adalah rumus kebahagiaan dan kesuksesan.

Kembali adalah kata kunci terpenting dari kebahagiaan atau happiness, sementara menang adalah kata kunci terpenting dari kesuksesan. Ini sesuai dengan penelitian mutakhir dalam bidang Psikologi Positif, bahwa kembali (happiness) datang lebih dulu, kemudian barulah menang (sukses).

Bagaimana memaknai minal aidin wal faizin yang sesungguhnya? Simak ulasannya dalam rekaman video Smart Happiness “Kembali dan Menang” Part 1 sampai Part 4 di Youtube berikut ini:

[Smart Happiness] On Death: The Happiness Perspective

Banyak orang yang takut dan menghindari berbicara tentang kematian. Hal ini bisa dipahami karena kita saat ini hidup dalam kultur yang menyangkal kematian. Kematian dianggap sebagai sebuah tragedi yang menyakitkan, menakutkan sekaligus menyeramkan sehingga kita harus menghindarinya.

Penyangkalan ini tumbuh dari dunia yang materialistis. Di dunia sekarang ini segala sesuatu dinilai dengan materi, kebendaan, sehingga kita melupakan hakikat kita yang bukan hanya makhluk materi (fisik) melainkan juga makhluk spiritual. Padahal, hakikatnya manusia adalah makhluk spiritual yang kebetulan singgah sementara di rumah fisiknya di dunia dalam bentuk tubuh kita.

Saat tubuh kita mulai menua, dia pun tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi diri spiritual kita. Di saat itulah, kita akan mencari tempat tinggal baru, dan meninggalkan tempat tinggal lamanya di dunia. Apa sesungguhnya hakikat kematian, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya?

Simak ulasannya dalam rekaman video Smart Happiness “On Death: The Happiness Perspective” Part 1 sampai Part 4 di YouTube berikut ini:

Kembali dan Menang

Minal aidin wal faizin. Kalimat ini begitu akrab di telinga kita dan diucapkan oleh setiap orang yang bertemu dalam suasana Idul Fitri. Namun banyak orang yang mengartikan kalimat ini dengan “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Padahal arti sesungguhnya sangatlah berbeda. Kalimat ini adalah sebuah doa yang berarti “Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang kembali dan menang.”

Makna kata “kembali” dan “menang” sesungguhnya tidak sesederhana yang kelihatan. Kata-kata ini memiliki makna mendalam dan sesungguhnya merupakan hasil terbesar yang didapatkan orang yang berpuasa.

Continue reading