Ketakutan Mengingat Kematian

Arvan Pradiansyah

Motivator Nasional – Leadership & Happiness

mengingat kematian
Kesan pertama ketika mengingat kematian adalah mengerikan, menyeramkan dan membicarakannya seperti menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Apa yang terlintas di pikiran ketika Anda mengingat kematian? Pertanyaan ini saya tanyakan kepada banyak orang dan jawaban yang paling sering saya dengar adalah: mengerikan, menakutkan dan menyeramkan. Sebagian orang mengatakan tak ingin membicarakannya, bahkan tak ingin mengingatnya sama sekali. Membicarakan atau mengingat kematian sepertinya menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Pertanyaannya adalah, apakah ini fenomena yang wajar? Saya tidak ingin mengatakan demikian. Kata-kata yang lebih tepat adalah bahwa fenomena ini lahir dari pikiran yang belum tercerahkan.

Padahal kematian pasti akan terjadi pada siapa saja. Bukankah setiap makhluk yang bernyawa pasti mati? Bahkan kita bisa mengatakan bahwa mati merupakan satu-satunya hal yang paling pasti di dunia ini. Karena itu tak ada pilihan lain, kita harus bersiap-siap. Dan salah satu persiapan kita adalah mengingat kematian dan membicarakan perihal kematian ini.

Pentingnya Mengingat Kematian

Rasa takut menghadapi kematian sesungguhnya mengandung beberapa informasi penting. Pertama, takut menunjukkan dengan jelas bahwa Anda belum siap menghadapi kematian. Sama saja dengan orang yang menghadapi ujian padahal belum belajar apa-apa. Orang yang seperti ini pasti akan merasa takut. Ketenangan hanyalah milik orang-orang yang siap. Jadi berterima kasihlah kepada rasa takut karena ialah menunjukkan dengan terang benderang mengenai ketidaksiapan kita.

Kedua, rasa takut sesungguhnya merupakan perintah bagi kita untuk melakukan sesuatu, karena hanya dengan melakukan sesuatu itulah ketakutan akan menghilang. Maka rasa takut ini harus segera kita terjemahkan ke dalam bentuk tindakan yang konkret dan terukur. Kita harus belajar mengingat kematian, kita harus mengenali apa itu kematian. Ketika sesuatu telah kita kenali maka ketakutan kita terhadap hal itu perlahan-lahan akan berkurang.

Di Korea Selatan, misalnya,  kini sudah lazim orang mengikuti simulasi kematian untuk lebih memahami apa yang akan terjadi ketika kita meninggal dunia. Yang menarik, simulasi kematian ini diselenggarakan oleh pemerintah dengan tujuan sebagai terapi agar masyarakat lebih menghargai hidup. Simulasi kematian ini telah diselenggarakan sejak tahun 2012 dan telah diikuti lebih dari 25 ribu orang. Di sana peserta berperan sebagai jenazah yang siap dimakamkan. Mereka membuat foto kematiannya sendiri dan memakai baju jenazah yang biasa digunakan saat upacara kematian di Korea. Mereka juga diminta menuliskan surat wasiat sebelum akhirnya tidur di peti mati yang tertutup selama beberapa menit.

Pembelajaran mengingat kematian di Korea ini sesungguhnya merupakan pengembangan dari apa yang sudah dilakukan di Jepang sejak lama. Saya ingat waktu pertama kali saya pergi ke Jepang di awal tahun 1990-an. Waktu itu saya mendapatkan beasiswa dari Japan Airlines untuk kuliah selama dua bulan di Sophia University di kampus Ichigaya, Tokyo. Salah satu hal yang sangat popular waktu itu adalah apa yang disebut dengan Death Education, pendidikan mengenai kematian.

Pendidikan mengenai kematian ini diselenggarakan dalam bentuk seminar dan berbagai diskusi dalam masyarakat. Hal ini untuk menghapus tabu untuk membicarakan kematian bahkan meminta orang untuk merencanakan penguburan mereka sendiri. Juga anjuran untuk menyelesaikan unfinished business dan mengevaluasi kualitas hubungan yang mereka miliki dengan orang lain sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Death Education ini kemudian juga diajarkan di sekolah-sekolah dasar di Jepang.

Kematian adalah Kejadian yang Pasti Terjadi

mengingat kematian
Kematian adalah sebuah konsekuensi logis dari kehidupan kita di dunia yang fana ini, sebuah keniscayaan yang tak akan bisa kita hindari.

Tanpa harus meniru Korea dan Jepang sesungguhnya kita pun membutuhkan pendidikan semacam ini. Kematian sesungguhnya adalah sesuatu yang wajar, sebuah konsekuensi logis dari kehidupan kita di dunia yang fana ini, sebuah keniscayaan yang tak akan bisa kita hindari. Kesadaran semacam itu mestinya bisa membuka mata kita untuk mulai berani membicarakan kematian.

Sesungguhnya bagi pikiran yang telah tercerahkan, kematian senantiasa memiliki makna yang positif. Mengingat kematian membuat kita sadar akan adanya batas waktu. Bahwa waktu kita sesungguhnya tidak banyak, karena itu kematian akan mengingatkan kita untuk segera melakukan hal-hal penting dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting.

Kematian yang bisa terjadi kapan saja juga membuat kita selalu awas dan terjaga dengan menganggap bahwa jangan-jangan apa yang kita lakukan hari ini adalah yang terakhir. Dengan demikian kita akan selalu melakukan yang terbaik. Kesadaran akan adanya kematian juga dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain, karena kalau saat ini merupakan pertemuan yang terakhir dengan orang-orang yang terkasih, bukankah kita akan benar-benar masuk ke dalam momen ini dengan sesungguh-sungguhnya?

Dan yang lebih penting lagi, melalui kematian sesungguhnya jiwa kita telah berpindah dari kehidupan dunia ke kehidupan yang lebih tinggi dan lebih indah, dimana tidak ada lagi penderitaaan. Yang ada hanya kebaikan dan kebahagiaan. Dan bahwa kebahagiaan dan kenikmatan yang tertinggi sesungguhnya adalah menikmati wajah Tuhan Yang Maha Mencinta.

* * *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× Hubungi Kami Sekarang